Menulis Tentangmu...
Makin semngat membongkar folder..setelah menemukan satu persatu tulisan2 tak pernah terbit..hahahha..dan sampailah saya pada tulisan ini. dari tanggalx tertera 13 oktober 2013.setahun setelah kepergianmu. mengingat inilah putus terakhirta sebelum kw pergi. saat saya sibuk dengan kantorku..saat kw sibuk dengan kantormu..saat ada ribuan sms mu yang tak ku balas..saat saya berusaha sebisa mungkin tidak bertemu lgi denganmu dibumi..dan disinilah saya..membaca tulisan ini dengan penyesalan bahwa betapa " tak ada waktu yang tepat"
dan inilah tulisan itu....
Menulis Tentangmu...
Saat teman2 sekampus mulai sering mengirimi
undangan di saat kita masih sibuk mengejar karir masing2.. Pernah Terlintas
pikiran aneh...
“Bila salah satu kita menikah lebih dulu
dengan orang lain”, Akankah kita saling menghadiri. Bagaimana bila kamu duluan
yang mengirimiku undangan..bagaimana jadinya? Belum bisa ku tebak pasti
rasanya. Mungkin rasanya aneh tak terkata. Ku bayangkan bila itu terjadi..Aku
pasti datang. Mungkin akan ku pakai baju terindah dan termahal yang mampu ku beli.
Menghabiskan gaji setahun pun tidak masalah, pikirku. Rasanya mungkin aneh
jalan di altar pelaminanmu menjabat tanganmu dan wanita disampingmu sembari
berucap “selamat menempuh hidup baru yah, semoga menjadi keluarga
Sakinnah,Warahmah,Mawaddah”dengan senyum terhangat yang mungkin sudah ku latih
sebelumnya jauh2 hari di depan kaca. Kau dan wanitamu harus ku buat terkesan
“Beginilah caranya Mantan Kekasih harus bersikap”. Kau tahu dari dulu saya selalu
bisa mengendalikan suasana.
Sebulan Lewat..Undangan Teman
sekampus kita makin ramai singgah di rumah..meja kantor..atau hanya lewat
dinding Facebook. Tapi Undangan mu belum ada. Nafas lega.
Berbulan-bulan kemudian...Tidak
ada namamu diantara tumpukan undangan di meja kantor..Senyum lega..
Bulan berikutnya..Trend undangan
berubah..tidak ada undangan nikahan lagi. Seminggu lalu undangan melayat adik
kelas terpampang di facebook. Hari ini undangan melayat teman sekelas tersebar di
BBM. Hmmm ada apa dengan kampus kita ini...
Terlintas pikiran aneh lagi..
“Bagaimana bila salah satu kita
dipanggil lebih dulu oleh yang di Atas”..ahhh pikiran aneh. Tidak mungkin. Ku
buka facebookmu..ucapan selamat ulang tahun berderet disana.. penasaran ku
scroll hingga ke bawah.. dari dulu kau memang sperti ini. Sederhana. Statusmu
pun yah begitu2 saja. Terselip rindu “apa kabarmu yah. Saya tahu karirmu sedang
meningkat. Lebih baik dari kemarin. Malam ku tutup dengan mengenang kisah yang
gugur meranggas di jalan tua kampus..tentang Aku, dirimu dan teman mu yang ku
cintai setengah mati.
Lalu esok..malam menyambutku
dengan Undangan tentangmu
Terpampang semua ucapan untukmu
di facebook, sms, bbm dan status orang2 yang mengenalmu..
Berdebar jantung melihatnya.
Serasa paru2 tak cukup suplay udara. Sesak. Bergetar ku baca rangakain kalimat
yang beruntun masuk lewat BBM..
Sekejap Hening. Tidak percaya. Ku
cubit diri meyakinkan ini bukan mimpi. Ini bukan khayalanku yang kemarin kan..
Hening lagi..berharap salah baca.
Namun bbm semakin beruntun menuliskan namamu..
Masih tidak percaya ku hidupkan
laptop, ku pantau facebook..
Ucapan2 yg beruntun di dindingmu
semakin menjelaskan ini bukan lagi Mimpi.
Dan saya akhir nya disini ..
Berjalan di altarmu. Tidak ada
baju mahal yg pernah ku bayangkan..ucapan yang akan ku ucapakan tidak sempat ku
latih lagi didepan kaca. Tidak ada latihan senyum hangat lagi. Semuanya serba
mendadak. Mungkin penggantinya ku bawakan saja bunga untukmu. Sejam disini
bersamamu berkata banyak. Namun kau terdiam saja. Tidak ada undangan yg
tertulis namamu dng wanita yg tuhan pilihkan. Hanya namamu saja yang tertulis. Sedih.
Pilu melihat batu itu pongah berdiri berpahatkan Namamu di atas altar
terakhirmu.
Asdar Rahman.
Lahir 15 Agustus
1986.
Wafat 23 Agustus
2012.
Kau tahu saya selalu bisa
mengendalikan suasana. Tapi sekali ini dalam hidup saya tidak mampu. Jatuh
meluruh dibumi hatiku. Gugur kelopaknya bertebaran menjadi serpihan serpihan
bernama penyesalan.
Terlintas khayalan ku dulu...bila
salah satu dari kita menikah lebih dulu”sudah saya persiapkan.
Tapi Khayalan “bila salah satu
dari kita dipanggil lebih dulu oleh yang diatas”, belum juga terpikir bagaimana
menyiapkannya. Bagaimana melatih caranya menagis. Cara memberi ucapan. Baju apa
yang akan dipakai..
Tuhan sudah memililihkan nya
untukmu..dan memilihkan untuk ku apa yang
harus ku hadapi.
Seperti Status Terakhirmu
“Kiranya Tak Ada Waktu Yang Tepat” . Ku ucapkan sekali lagi kata-kata itu
“kiranya Tak ada Waktu yang Tepat.
Selamat Jalan Kekasih Terbaik yang Pernah
Kumiliki Hatinya..
Rest In Peace Asdar Rahman...
“Ada seseorang dalam
hidupmu yang ketika dia pergi maka ia juga membawa sepotong hatimu” Tere Liye
