Sepenggal Balada "Daun Kelor"

Terpikir untuk menuliskan ini sebelum nanti jadi terlupa
agar saat 5 atau 10 tahun kemudian saat membaca ulang..
pasti sudah menjadi lelucon..

Tuhan, Dengar yang ini...

Maaf, saya belum juga mencintaimu..
Saya bukan tidak mencobanya..
saya bahkan mencoba sangat keras..
Bukan kah saya telah 4 tahun di sisimu..
saya belajar, berusaha bahkan berdoa
agar tuhan menitipkan rasa cinta kepadamu.
Tak perlu banyak. Setitik pun cukup. 
Jika itu ada saya akan merawat dan membiarkan nya tumbuh..namun 4 tahun  hati tetap saja kering.
Tak pernah sekalipun saya terbangun di pagi hari  dan begitu bersemangat menemuimu.
Tak pernah satu kalipun, bahkan setelah 4 tahun.
Namun, tuhan selalu saja memudahkan langkah ku ketika dengan terpaksa harus meraihmu. Ketika banyak orang memimpikan bisa berada di sisimu. Mengapa harus aku yang dipilih tuhan. Orang yang tidak pernah mencintaimu. Sedikitpun, satu kalipun tak pernah.
Saya sudah sangat begitu tertekan karena meredam mimpi2 ku sendiri demi mendampingimu.. demi mengabdikan hidupku padamu..yang dalam pengabdian itu tak sekalipun saya bahagia.
Lalu, lihatlah ketika saya mencari cara, bernegesioasi dengan keberanian sendiri untuk berhenti di smpingmu..kau malah menjebak ku agar bisa lebih lama terikat padamu..agar saya memiliki alasan lebih kuat lagi untuk tidak meninggalkanmu..
Kau membuat saya tak punya pilihan selain mngikuti langkahmu..saya menjalani semacam kontrak dengan dirimu yang saat itu saya berpikir hanya dengan kontrak itu saya bisa rehat sejenak dari dirmu. Dari perasaan tertatih dalam mendampingimu...Tanpa pikir panjang pun saya mengikutimu
Dan disini lah saya..Engkau asingkan saya 2 tahun dari kota kelahiranku..

Kau membuatku menjalani hal yang sama tidak saya cintai sebagaimana saya tidak pernah mencintai dirimu..dan beginilah saya semakin terkuras saja hati dan semangat hidup di titik batas penghabisannya..kau jauhkan saya dari hal yang saya cintai..dan dengan kontrak inilah kau menjebakku, menjadikan ku semakin kesulitan menemukan alasan untuk berhenti mendampingimu..

Surat Untuk Kamu...

6 Maret 2014, Yogyakarta

Jika saya di bolehkan mengirimkan surat padamu..mungkin ini yang akan saya tuliskan..

Assalamualaikum. WR.WB..Salam Terkasih dari bawah langit..
Semoga harimu di sana selalu di lapangkan Allah SWT..

Saya Rindu. Itu yang pertama.

saya rindu pada keteduhan hatimu, pada kesederhanaan sikapmu..pada jiwamu yang bersahja.
 Saya Kehilangan . itu yang kedua. Teramat sangat..

Saya ingin memberi tahumu beberapa hal yang mungkin tidak terkatakan sempurna dari mulutku ketika anda masih hidup..

- Kunjunganmu terakhir di rumah..yang tidak saya mengerti alasan nya..kenapa tiba2 kau datang saat perang dingin masih kita kibarkan benderanya di hati masing2..sepanjang malam setelah kau pulang saya tidak bisa tidur memikirkanu alasanmu. terasa ingin sekali saya sms "apa maksudmu tadi sbenarnya datang". sampai sekarangpun saya masih bertanya2 alasan mu sebenarnya datang waktu itu.

- Ingat Waktu di miakassar, Praktikum..saat saya sakit dan tdk sadarkan diri..saat anak childiest cerita Asta datang menjenguk..kau tahu itu kali pertama saya merasa betapa yg ingin saya dengar apakah kamu juga datang..ini kali pertama Kamu di atas ASTA..dan saat itu saya benar sadar dengan terang benderang itulah kali pertama saya mengakui jatuh cinta kepadamu..hati sudah berganti pemiliknya..sungguh menyedihkan saya sadar jatuh cinta pada pacar sendiri setelah beberapa tahun.

- Asal Kau tahu, No HP mu..saya hapus. kartu saya ganti. namun sampai skrg saya masih hapal. 085241593152. 


Kali ini Saya Paham Hati Ka`Sita..

Perjalanan 12 Jam dari Yogyakarta Ke Jakarta

Semoga Umi Selalu di Sayang Allah SWT

Jarak selalu memberi pesonanya pada rasa rindu.Membuat kesadaran kita tersentak Betapa berartinya seseorang ketika dia jauh...

Kemarin,Seminggu pertama di jogja..Dia menelpon..
Umi, begitu panggilan kami semua pada kakak sulung perempuanku..
dengan intonasi khasx dia memulai pembicaraan..
" lagi bikin apa de".
"nonton ustad Syafiq Reza Basalamah lewat you tube, mi, ujarku menyebutkan kegemaran baru kami saat liburanq di kendari"
"dia tertawa renyah..akhirnya ko dapat juga di itu ustadmu"
saya tertawa senang..iye, sya cari semua di you tube..hahaha..,saya balik bertanya, "umi, lgi bkin apa, nda nonton Lawak Club kah?
"dari kau pulang di jogja kemarin, saya jadi malas nonton LK", kemarin saya nonton lain2 rasanya tidak ada kamu..biasanya kita nonton sama-sama..jadi tidak lucu nonton sendiri..saya putar sebentar langsung masuk kamar..tidak lanjutkan nonton..saya sedih..berasa mi adeku sudah pergi lagi...sampai saya blg ke mama..pergimi lagi anakmu satu ma..saya sedih..mama juga sedih..klo sita yang pergi atau tidak ada dirumah sudah biasa karena dari dulu kerja nya merantau, tapi klo kamu yg tidak ada dirumah berasa sekali, klo malam pasti kamu datang di kamarku..main sama izik atau gendong ewan..ini terasa sekali ko tdk ada..ucapnya di ujung sana..








Dengan Alasan berbeda, Namun Akhirnya Jogja..

Sudah lewat satu semester..udara jogja ini ku hirup..kota sederhana yang bersahaja, kata orang yang hidup dikota ini atau bahkan sekedar mencicipi ilmu di kota pelajar ini..seperti Aku.. 

Melayang ingatanku pada 8 tahun silam, saat saya merengek dengan berderai air mata pada bapak untuk memohon izin melanjutkan sekolah di kota yg ku huni sekarang ini..

Ingatan Tentang "ASMA"

Saya tahu betul ia tidak suka membaca..Namun jika ada waktu luang di tengah merapikan koleksi tas dan sandalmu..bacalah tulisan ini..dan berjanjilah untuk tidak menangis..

Karena Menitik juga air di ujung mataku saat hendak menulis ini..Menuliskanmu..Meski saya tahu ia tidak sabaran membaca hingga akhir..namun bila kau sempat membaca ini..bacalah hingga akhir..

Kami tumbuh dan besar bersama. Kata Ibu juga Bapakku. Kami sedarah. Masih sepupu kata mereka. Namun sejak saya memiliki ingatan, bukan bagian itu yang jelas teringat. Bila Mengumpulkan ingatan masa kecil pada saat kami tumbuh bersama saya memilih ingatan ini. Ingatan yang mungkin dia lupa pernah melakukannya. Ingatan yang hingga seumur ini tidak pernah saya ceritakan bahwa saya mengingat betul kejadian itu. Mungkin kita masih seumur 4 atau 5 tahun, pastinya kita belum bersekolah saat itu. Seperti siang yang biasa dimana kami selalu sepakat menyusun skenario melarikan diri dari jam tidur siang yang sudah ditentukan ibu bapak kami. selalu di pukul 2 siang. Sebenarnya saya yg lebih konstruktif untuk mengajaknya. saya pula yang selalu lebih dahulu memanggil dari balik jendelanya bila sudah berhasil lolos lebih dahulu dari aturan jam tidur siang yang sangat memenjarakan hak bermain anak seumur kami saat itu. Namun, siang itu sebelum saya memanggilnya seperti biasa, ia sudah tampak bermain di halaman rumah dengan anak tetangga lainnya. masih kerabat kami, juga kata ibu bapak ku. meskipun dengan wajah kurang setuju, saya ikut saja bermain dengan mereka. Sungguh, bila mengingat itu di umur seperti ini saya sadar disepanjang permainan saya benar2 tidak menikmati saat itu. terlebih ketika