Ingatan Tentang "ASMA"
Saya tahu betul ia tidak suka membaca..Namun jika ada waktu luang di tengah merapikan koleksi tas dan sandalmu..bacalah tulisan ini..dan berjanjilah untuk tidak menangis..
Karena Menitik juga air di ujung mataku saat hendak menulis ini..Menuliskanmu..Meski saya tahu ia tidak sabaran membaca hingga akhir..namun bila kau sempat membaca ini..bacalah hingga akhir..
Kami tumbuh dan besar bersama. Kata Ibu juga Bapakku. Kami sedarah. Masih sepupu kata mereka. Namun sejak saya memiliki ingatan, bukan bagian itu yang jelas teringat. Bila Mengumpulkan ingatan masa kecil pada saat kami tumbuh bersama saya memilih ingatan ini. Ingatan yang mungkin dia lupa pernah melakukannya. Ingatan yang hingga seumur ini tidak pernah saya ceritakan bahwa saya mengingat betul kejadian itu. Mungkin kita masih seumur 4 atau 5 tahun, pastinya kita belum bersekolah saat itu. Seperti siang yang biasa dimana kami selalu sepakat menyusun skenario melarikan diri dari jam tidur siang yang sudah ditentukan ibu bapak kami. selalu di pukul 2 siang. Sebenarnya saya yg lebih konstruktif untuk mengajaknya. saya pula yang selalu lebih dahulu memanggil dari balik jendelanya bila sudah berhasil lolos lebih dahulu dari aturan jam tidur siang yang sangat memenjarakan hak bermain anak seumur kami saat itu. Namun, siang itu sebelum saya memanggilnya seperti biasa, ia sudah tampak bermain di halaman rumah dengan anak tetangga lainnya. masih kerabat kami, juga kata ibu bapak ku. meskipun dengan wajah kurang setuju, saya ikut saja bermain dengan mereka. Sungguh, bila mengingat itu di umur seperti ini saya sadar disepanjang permainan saya benar2 tidak menikmati saat itu. terlebih ketika
Karena Menitik juga air di ujung mataku saat hendak menulis ini..Menuliskanmu..Meski saya tahu ia tidak sabaran membaca hingga akhir..namun bila kau sempat membaca ini..bacalah hingga akhir..
Kami tumbuh dan besar bersama. Kata Ibu juga Bapakku. Kami sedarah. Masih sepupu kata mereka. Namun sejak saya memiliki ingatan, bukan bagian itu yang jelas teringat. Bila Mengumpulkan ingatan masa kecil pada saat kami tumbuh bersama saya memilih ingatan ini. Ingatan yang mungkin dia lupa pernah melakukannya. Ingatan yang hingga seumur ini tidak pernah saya ceritakan bahwa saya mengingat betul kejadian itu. Mungkin kita masih seumur 4 atau 5 tahun, pastinya kita belum bersekolah saat itu. Seperti siang yang biasa dimana kami selalu sepakat menyusun skenario melarikan diri dari jam tidur siang yang sudah ditentukan ibu bapak kami. selalu di pukul 2 siang. Sebenarnya saya yg lebih konstruktif untuk mengajaknya. saya pula yang selalu lebih dahulu memanggil dari balik jendelanya bila sudah berhasil lolos lebih dahulu dari aturan jam tidur siang yang sangat memenjarakan hak bermain anak seumur kami saat itu. Namun, siang itu sebelum saya memanggilnya seperti biasa, ia sudah tampak bermain di halaman rumah dengan anak tetangga lainnya. masih kerabat kami, juga kata ibu bapak ku. meskipun dengan wajah kurang setuju, saya ikut saja bermain dengan mereka. Sungguh, bila mengingat itu di umur seperti ini saya sadar disepanjang permainan saya benar2 tidak menikmati saat itu. terlebih ketika
